Senin, 02 September 2013

SEMANGAT MUDA



Berbangga menjadi kaum muda memiliki banyak alasan. Diantaranya memiliki jasmani yang kuat, memiliki banyak kesempatan untuk : berkarya, menggali potensi dan mengejar mimpi. 
Tentunya jika dan hanya jika mereka mengetahui dan memiliki semangat “muda” nya. Tidak sedikit bukan kaum muda yang melejitkan prestasi yang mencengangkan para senior. 
Tapi seperti mana besarnya peluang kesuksesan yang bisa dicetakkan oleh mereka, peluang negatif yang membuatkan kekhawatiran global pun tidak sedikit. Membuat haru, membuat kecewa, membuat ironis. Melihat realita yang dilakukan kaum muda di sana-sini, yang kian hari bertumbuh adalah ketakutan, kekhawatiran dan kecurigaan. Keterbukaan dan ukhuwah antar sesama seperti terisolasi. Tak lagi pandai bernegosiasi melainkan berpaut pada emosionalisme. Fenomena ngeri. Khalifah negeri seperti kehilangan kesatrianya. Pendidikan yang dikenyam, seperti hanyalah balutan untuk seragam yang menutupi aib jahiliyah. Demi kesejahteraan yang diidamkan secara nafsi-nafsi, akhirnya harus rela mendistorsi nilai kebersamaan yang telah kokoh dibangun para pengabdi terdahulu. 
Ada apa semangat muda? 
Seperti halnya tumbuhan berpucuk di pagi hari. Pucuk yang selalu muda, memperbaharui dan menuaikan semerbak kesegaran aroma pagi. Begitulah idealnya semangat yang ingin selalu dimiliki, terus bermuda. Dan apa yang salah ketika tumbuhan tak lagi berpucuk? Barangkali substansi yang diterimanya tak lagi memberikan nutrisi untuk kehidupannya. Bukankah sebuah bejana tidak dapat mengeluarkan isi yang berbeda dengan apa yang dikandungnya? Dan yang berproses di daamnya adalah apa yang telah diisikan ke dalamnya? Karenanya mengapa semangat kadang tak lagi “muda” ? Adalah karena apa yang menjadi nutrisi untuk semangat itu. Jika hal-hal yang berbau non-nutrisi yang dimasukkan dan dicerna, tentu hasilnya bukan pertumbuhan yang baik bukan? Suatu bangsa adalah tergantung pada pemuda di dalamnya. Pemuda adalah harapan bangsa. Syubbanul yaum rijalul ghod : Pemuda hari ini adalah penerus esok hari ini
Betapa besar makna pemuda untuk ukuran suatu bangsa. Karenanya mengapa pemuda adalah aset yang teramat besar untuk : kemajuan atau keruksakan suatu bangsa. Namun sekalipun ia mampu, untuk apa jika tidak mau? Sekalipun ia kuat untuk apa jika tidak rela berkorban dan bertindak? Sekalipun ia berakal sehat untuk apa jika hanya ingin menjadi penikmat saja? Olehkarena itu, penanaman nasionalisme, patriotisme dan jiwa heroik adalah nutrisi yang wajib dimiliki kaum muda. Dan semua itu tidak akan terlepas dari pendidikan, bimbingan dan teladan yang menjadi bahan orientasi. Masih ada kesempatan merenovasi semangat anak negeri sampai semua menyadari peran pentingnya dalam sumbangsi pembangunan negeri. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S Ar – Rad : 11 yang artinya : “... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri....”

SEMANGAT MUDA

Posted by ati nurrohmah Jumat, 28 Juni 2013 0 komentar
Berbangga menjadi kaum muda memiliki banyak alasan. Diantaranya memiliki jasmani yang kuat, memiliki banyak kesempatan untuk : berkarya, menggali potensi dan mengejar mimpi. 
Tentunya jika dan hanya jika mereka mengetahui dan memiliki semangat “muda” nya. Tidak sedikit bukan kaum muda yang melejitkan prestasi yang mencengangkan para senior. 
Tapi seperti mana besarnya peluang kesuksesan yang bisa dicetakkan oleh mereka, peluang negatif yang membuatkan kekhawatiran global pun tidak sedikit. Membuat haru, membuat kecewa, membuat ironis. Melihat realita yang dilakukan kaum muda di sana-sini, yang kian hari bertumbuh adalah ketakutan, kekhawatiran dan kecurigaan. Keterbukaan dan ukhuwah antar sesama seperti terisolasi. Tak lagi pandai bernegosiasi melainkan berpaut pada emosionalisme. Fenomena ngeri. Khalifah negeri seperti kehilangan kesatrianya. Pendidikan yang dikenyam, seperti hanyalah balutan untuk seragam yang menutupi aib jahiliyah. Demi kesejahteraan yang diidamkan secara nafsi-nafsi, akhirnya harus rela mendistorsi nilai kebersamaan yang telah kokoh dibangun para pengabdi terdahulu. 
Ada apa semangat muda? 
Seperti halnya tumbuhan berpucuk di pagi hari. Pucuk yang selalu muda, memperbaharui dan menuaikan semerbak kesegaran aroma pagi. Begitulah idealnya semangat yang ingin selalu dimiliki, terus bermuda. Dan apa yang salah ketika tumbuhan tak lagi berpucuk? Barangkali substansi yang diterimanya tak lagi memberikan nutrisi untuk kehidupannya. Bukankah sebuah bejana tidak dapat mengeluarkan isi yang berbeda dengan apa yang dikandungnya? Dan yang berproses di daamnya adalah apa yang telah diisikan ke dalamnya? Karenanya mengapa semangat kadang tak lagi “muda” ? Adalah karena apa yang menjadi nutrisi untuk semangat itu. Jika hal-hal yang berbau non-nutrisi yang dimasukkan dan dicerna, tentu hasilnya bukan pertumbuhan yang baik bukan? Suatu bangsa adalah tergantung pada pemuda di dalamnya. Pemuda adalah harapan bangsa. Syubbanul yaum rijalul ghod : Pemuda hari ini adalah penerus esok hari ini
Betapa besar makna pemuda untuk ukuran suatu bangsa. Karenanya mengapa pemuda adalah aset yang teramat besar untuk : kemajuan atau keruksakan suatu bangsa. Namun sekalipun ia mampu, untuk apa jika tidak mau? Sekalipun ia kuat untuk apa jika tidak rela berkorban dan bertindak? Sekalipun ia berakal sehat untuk apa jika hanya ingin menjadi penikmat saja? Olehkarena itu, penanaman nasionalisme, patriotisme dan jiwa heroik adalah nutrisi yang wajib dimiliki kaum muda. Dan semua itu tidak akan terlepas dari pendidikan, bimbingan dan teladan yang menjadi bahan orientasi. Masih ada kesempatan merenovasi semangat anak negeri sampai semua menyadari peran pentingnya dalam sumbangsi pembangunan negeri. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S Ar – Rad : 11 yang artinya : “... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri....”
- See more at: http://nurrohmahblogger.blogspot.com/2013/06/semangat-muda.html#sthash.WfDLUyUF.dpuf

SEMANGAT MUDA

Posted by ati nurrohmah Jumat, 28 Juni 2013 0 komentar
Berbangga menjadi kaum muda memiliki banyak alasan. Diantaranya memiliki jasmani yang kuat, memiliki banyak kesempatan untuk : berkarya, menggali potensi dan mengejar mimpi. 
Tentunya jika dan hanya jika mereka mengetahui dan memiliki semangat “muda” nya. Tidak sedikit bukan kaum muda yang melejitkan prestasi yang mencengangkan para senior. 
Tapi seperti mana besarnya peluang kesuksesan yang bisa dicetakkan oleh mereka, peluang negatif yang membuatkan kekhawatiran global pun tidak sedikit. Membuat haru, membuat kecewa, membuat ironis. Melihat realita yang dilakukan kaum muda di sana-sini, yang kian hari bertumbuh adalah ketakutan, kekhawatiran dan kecurigaan. Keterbukaan dan ukhuwah antar sesama seperti terisolasi. Tak lagi pandai bernegosiasi melainkan berpaut pada emosionalisme. Fenomena ngeri. Khalifah negeri seperti kehilangan kesatrianya. Pendidikan yang dikenyam, seperti hanyalah balutan untuk seragam yang menutupi aib jahiliyah. Demi kesejahteraan yang diidamkan secara nafsi-nafsi, akhirnya harus rela mendistorsi nilai kebersamaan yang telah kokoh dibangun para pengabdi terdahulu. 
Ada apa semangat muda? 
Seperti halnya tumbuhan berpucuk di pagi hari. Pucuk yang selalu muda, memperbaharui dan menuaikan semerbak kesegaran aroma pagi. Begitulah idealnya semangat yang ingin selalu dimiliki, terus bermuda. Dan apa yang salah ketika tumbuhan tak lagi berpucuk? Barangkali substansi yang diterimanya tak lagi memberikan nutrisi untuk kehidupannya. Bukankah sebuah bejana tidak dapat mengeluarkan isi yang berbeda dengan apa yang dikandungnya? Dan yang berproses di daamnya adalah apa yang telah diisikan ke dalamnya? Karenanya mengapa semangat kadang tak lagi “muda” ? Adalah karena apa yang menjadi nutrisi untuk semangat itu. Jika hal-hal yang berbau non-nutrisi yang dimasukkan dan dicerna, tentu hasilnya bukan pertumbuhan yang baik bukan? Suatu bangsa adalah tergantung pada pemuda di dalamnya. Pemuda adalah harapan bangsa. Syubbanul yaum rijalul ghod : Pemuda hari ini adalah penerus esok hari ini
Betapa besar makna pemuda untuk ukuran suatu bangsa. Karenanya mengapa pemuda adalah aset yang teramat besar untuk : kemajuan atau keruksakan suatu bangsa. Namun sekalipun ia mampu, untuk apa jika tidak mau? Sekalipun ia kuat untuk apa jika tidak rela berkorban dan bertindak? Sekalipun ia berakal sehat untuk apa jika hanya ingin menjadi penikmat saja? Olehkarena itu, penanaman nasionalisme, patriotisme dan jiwa heroik adalah nutrisi yang wajib dimiliki kaum muda. Dan semua itu tidak akan terlepas dari pendidikan, bimbingan dan teladan yang menjadi bahan orientasi. Masih ada kesempatan merenovasi semangat anak negeri sampai semua menyadari peran pentingnya dalam sumbangsi pembangunan negeri. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S Ar – Rad : 11 yang artinya : “... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri....”
- See more at: http://nurrohmahblogger.blogspot.com/2013/06/semangat-muda.html#sthash.WfDLUyUF.dpuf
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgewL7UIl5LRXZu4LmwLpPU0XTUWDbijmmZbiFDJRHzXaP2UFbf4WGX00ZflgJz10FE4OERESe1-HLkGw4spxmjYPgZm_nVddNlUtfLiLlY7gp-HGI2b3PH6GGRYBxz0tlZAuWVn5DhV0-W/s300/hhhh.jpg
Berbangga menjadi kaum muda memiliki banyak alasan. Diantaranya memiliki jasmani yang kuat, memiliki banyak kesempatan untuk : berkarya, menggali potensi dan mengejar mimpi. 
Tentunya jika dan hanya jika mereka mengetahui dan memiliki semangat “muda” nya. Tidak sedikit bukan kaum muda yang melejitkan prestasi yang mencengangkan para senior. 
Tapi seperti mana besarnya peluang kesuksesan yang bisa dicetakkan oleh mereka, peluang negatif yang membuatkan kekhawatiran global pun tidak sedikit. Membuat haru, membuat kecewa, membuat ironis. Melihat realita yang dilakukan kaum muda di sana-sini, yang kian hari bertumbuh adalah ketakutan, kekhawatiran dan kecurigaan. Keterbukaan dan ukhuwah antar sesama seperti terisolasi. Tak lagi pandai bernegosiasi melainkan berpaut pada emosionalisme. Fenomena ngeri. Khalifah negeri seperti kehilangan kesatrianya. Pendidikan yang dikenyam, seperti hanyalah balutan untuk seragam yang menutupi aib jahiliyah. Demi kesejahteraan yang diidamkan secara nafsi-nafsi, akhirnya harus rela mendistorsi nilai kebersamaan yang telah kokoh dibangun para pengabdi terdahulu. 
Ada apa semangat muda? 
Seperti halnya tumbuhan berpucuk di pagi hari. Pucuk yang selalu muda, memperbaharui dan menuaikan semerbak kesegaran aroma pagi. Begitulah idealnya semangat yang ingin selalu dimiliki, terus bermuda. Dan apa yang salah ketika tumbuhan tak lagi berpucuk? Barangkali substansi yang diterimanya tak lagi memberikan nutrisi untuk kehidupannya. Bukankah sebuah bejana tidak dapat mengeluarkan isi yang berbeda dengan apa yang dikandungnya? Dan yang berproses di daamnya adalah apa yang telah diisikan ke dalamnya? Karenanya mengapa semangat kadang tak lagi “muda” ? Adalah karena apa yang menjadi nutrisi untuk semangat itu. Jika hal-hal yang berbau non-nutrisi yang dimasukkan dan dicerna, tentu hasilnya bukan pertumbuhan yang baik bukan? Suatu bangsa adalah tergantung pada pemuda di dalamnya. Pemuda adalah harapan bangsa. Syubbanul yaum rijalul ghod : Pemuda hari ini adalah penerus esok hari ini
Betapa besar makna pemuda untuk ukuran suatu bangsa. Karenanya mengapa pemuda adalah aset yang teramat besar untuk : kemajuan atau keruksakan suatu bangsa. Namun sekalipun ia mampu, untuk apa jika tidak mau? Sekalipun ia kuat untuk apa jika tidak rela berkorban dan bertindak? Sekalipun ia berakal sehat untuk apa jika hanya ingin menjadi penikmat saja? Olehkarena itu, penanaman nasionalisme, patriotisme dan jiwa heroik adalah nutrisi yang wajib dimiliki kaum muda. Dan semua itu tidak akan terlepas dari pendidikan, bimbingan dan teladan yang menjadi bahan orientasi. Masih ada kesempatan merenovasi semangat anak negeri sampai semua menyadari peran pentingnya dalam sumbangsi pembangunan negeri. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S Ar – Rad : 11 yang artinya : “... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri....”

SEMANGAT MUDA

Posted by ati nurrohmah Jumat, 28 Juni 2013 0 komentar
Berbangga menjadi kaum muda memiliki banyak alasan. Diantaranya memiliki jasmani yang kuat, memiliki banyak kesempatan untuk : berkarya, menggali potensi dan mengejar mimpi. 
Tentunya jika dan hanya jika mereka mengetahui dan memiliki semangat “muda” nya. Tidak sedikit bukan kaum muda yang melejitkan prestasi yang mencengangkan para senior. 
Tapi seperti mana besarnya peluang kesuksesan yang bisa dicetakkan oleh mereka, peluang negatif yang membuatkan kekhawatiran global pun tidak sedikit. Membuat haru, membuat kecewa, membuat ironis. Melihat realita yang dilakukan kaum muda di sana-sini, yang kian hari bertumbuh adalah ketakutan, kekhawatiran dan kecurigaan. Keterbukaan dan ukhuwah antar sesama seperti terisolasi. Tak lagi pandai bernegosiasi melainkan berpaut pada emosionalisme. Fenomena ngeri. Khalifah negeri seperti kehilangan kesatrianya. Pendidikan yang dikenyam, seperti hanyalah balutan untuk seragam yang menutupi aib jahiliyah. Demi kesejahteraan yang diidamkan secara nafsi-nafsi, akhirnya harus rela mendistorsi nilai kebersamaan yang telah kokoh dibangun para pengabdi terdahulu. 
Ada apa semangat muda? 
Seperti halnya tumbuhan berpucuk di pagi hari. Pucuk yang selalu muda, memperbaharui dan menuaikan semerbak kesegaran aroma pagi. Begitulah idealnya semangat yang ingin selalu dimiliki, terus bermuda. Dan apa yang salah ketika tumbuhan tak lagi berpucuk? Barangkali substansi yang diterimanya tak lagi memberikan nutrisi untuk kehidupannya. Bukankah sebuah bejana tidak dapat mengeluarkan isi yang berbeda dengan apa yang dikandungnya? Dan yang berproses di daamnya adalah apa yang telah diisikan ke dalamnya? Karenanya mengapa semangat kadang tak lagi “muda” ? Adalah karena apa yang menjadi nutrisi untuk semangat itu. Jika hal-hal yang berbau non-nutrisi yang dimasukkan dan dicerna, tentu hasilnya bukan pertumbuhan yang baik bukan? Suatu bangsa adalah tergantung pada pemuda di dalamnya. Pemuda adalah harapan bangsa. Syubbanul yaum rijalul ghod : Pemuda hari ini adalah penerus esok hari ini
Betapa besar makna pemuda untuk ukuran suatu bangsa. Karenanya mengapa pemuda adalah aset yang teramat besar untuk : kemajuan atau keruksakan suatu bangsa. Namun sekalipun ia mampu, untuk apa jika tidak mau? Sekalipun ia kuat untuk apa jika tidak rela berkorban dan bertindak? Sekalipun ia berakal sehat untuk apa jika hanya ingin menjadi penikmat saja? Olehkarena itu, penanaman nasionalisme, patriotisme dan jiwa heroik adalah nutrisi yang wajib dimiliki kaum muda. Dan semua itu tidak akan terlepas dari pendidikan, bimbingan dan teladan yang menjadi bahan orientasi. Masih ada kesempatan merenovasi semangat anak negeri sampai semua menyadari peran pentingnya dalam sumbangsi pembangunan negeri. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S Ar – Rad : 11 yang artinya : “... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri....”
- See more at: http://nurrohmahblogger.blogspot.com/2013/06/semangat-muda.html#sthash.WfDLUyUF.dpuf

Rabu, 28 Agustus 2013

Habib Syech bin Abdul Qodir Asegaf



"Saat orang bicara buruk mengenai kita, padahal kita tidak pernah mengusik kehidupan mereka, itu pertanda bahwa kehidupan kita sebenarnya LEBIH INDAH dari mereka".

Rabu, 31 Juli 2013

-=|◦ ‘‘Menangis Memadamkan Api Neraka !?’’ )◦-◦

Dua ilmuwan pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Kedua peneliti tersebut berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

Hasil penelitian kedua peneliti itu menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe ‘‘BARBEDA’’ dengan air mata yang mengalir karena kecewa dan sedih.

Air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe ternyata tidak mengandung zat yang berbahaya.

Sedangkan, air mata yang mengalir karena rasa kecewa atau sedih disimpulkan mengandung toksin, atau racun.

Kedua peneliti itu pun merekomendasikan agar orang² yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air matanya. Sebab, jika air mata kesedihan atau kekecewaan itu tidak dikeluarkan, akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.

Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas²nya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis.

Orang² yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Orang² yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, air mata itu akan melicinkannya menembus surga. Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa masa lalu akan memadamkan api neraka.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW; ‘‘Ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT...!!!’’ (HR. Muslim)

Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai.

Tuhan memuji orang menangis; ‘‘Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk...!!!’’ (QS Al-Isra' [17]:109).

Nabi Muhammad SAW bersabda; ‘‘Jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa²mu...!!!’’ (HR. Muslim)

Ciri² orang yang beruntung ialah;

[1]. Ketika mereka hadir di bumi langsung menangis, sementara orang² di sekitarnya tertawa dengan penuh kegembiraan.

[2]. Jika meninggal dunia ia tersenyum, sementara orang² di sekitarnya menangis karena sedih ditinggalkan.


Selasa, 30 Juli 2013

" Rasulullah Pernah Diludahi Wanita Tua? "




Bismillahirrahmaanirrahiim...

Rasulullah Muhammad SAW sering mendapat hinaan dari orang-orang yang belum mau memeluk Islam.
Berbagai bentuk hinaan diterima Rasulullah, mulai dari perkataan sampai tindakan, seperti diludahi.

Tetapi, Rasulullah menanggapi berbagai hinaan tanpa pernah sekalipun dengan marah. Beliau bahkan menganggap hinaan itu sebagai hiburan.

Ada seorang wanita tua yang sangat berani mencerca Rasulullah.
Setiap kali Rasulullah lewat depan rumahnya, wanita tua itu selalu meludahkan air liurnya di hadapan Rasulullah.

Suatu hari, Rasulullah tidak mendapati wanita tua itu meludah saat lewat di depan rumahnya. Hal itu membuat Rasulullah keheranan.

Akhirnya, Rasulullah bertanya kepada seseorang, "Hai fulan, tahukah kamu, di mana wanita pemilik rumah ini, yang selalu meludahiku setiap aku lewat depan rumahnya?"

Orang itu menjawab dengan acuh,
"Apa kau tidak tahu bahwa perempuan itu sudah beberapa hari terbaring sakit?"

Mendengar jawaban itu, Rasulullah mengangguk-anggukkan kepala dan melanjutkan perjalanan menuju masjid.

Setelah selesai, Rasulullah memutuskan untuk menjenguk wanita tua itu.
Mengetahui Rasulullah menjenguknya, wanita tua itu kemudian meneteskan air mata.

Dia kemudian bertanya mengapa Rasulullah mau menjenguknya.
"Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal aku selalu meludahimu setiap hari?" tanya wanita tua itu.

Rasulullah kemudian menjawab, "Aku yakin, engkau meludahiku karena belum tahu tentang kebenaranku.
JIka engkau sudah mengetahuinya, aku yakin engkau tak akan lagi melakukannya."

Jawaban Rasulullah membuat dada wanita tua itu sesak dan sedikit kesulitan bernapas. Si wanita kemudian mencoba mengatur napas dan menenangkan diri.

Setelah dalam keadaan tenang, wanita tua itu kemudian berbicara, "Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi mengikuti agamamu."

Wanita tua itu kemudian mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Rasulullah.

SubhanAllah, betapa Mulianya Rasul kita
Allahumma Shalli 'Ala Muhammad

Sabtu, 20 Juli 2013

ALLAH paling tahu yg terbaik buat kita....

Ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yg sangat bagus & gagah.

Suatu hari, seorang saudagar kaya ingin membeli kuda itu & menawarkan harga yg tinggi. Sayang si petani miskin itu tidak menjualnya.

Teman-2 nya menyayangkan & mengejek dia karna tidak menjual kudanya itu.

Keesokan hari nya, kuda itu hilang dari kandangnya. Maka teman-2 nya berkata : sungguh jelek nasibmu, padahal kalo ...kemarin di jual kamu kaya, sekarang kudamu sudah hilang. Si petani miskin hanya diam saja.

Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali bersama 5 ekor kuda lainnya. Lalu teman-2 nya berkata : wah beruntung sekali nasibmu, ternyata kudamu membawa keberuntungan. Si petani hanya diam saja.

Beberapa hari kemudian, anak si petani yg sedang melatih kuda-2 baru mereka terjatuh dan kakinya patah.
Teman-2 nya berkata :
rupanya kuda-2 itu membawa sial, lihat sekarang anakmu kakinya patah.
Si petani tetap diam tanpa komentar.

Seminggu kemudian terjadi peperangan di wilayah itu, semua anak muda di desa dipaksa utk berperang, kecuali si anak petani karna tidak bisa berjalan.
Teman-2 nya mendatangi si petani sambil menangis :
beruntung sekali nasibmu karna anakmu tidak ikut berperang, kami harus kehilangan anak-2 kami.

Si petani kemudian berkomentar :
Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dgn mengatakan nasib baik atau jelek, semuanya adalah suatu rangkaian proses. Syukuri & terima keadaan yg terjadi saat ini, apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok.
Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok.

Tetapi yg PASTI : ALLAH paling tahu yg terbaik buat kita..