Senin, 15 Juli 2013

Kisah malaikat Jibril AS dan Umat Rasulullah

"Tatkala ALLAH SWT menciptakan malaikat Jibril AS, dipilihlah wujud yang paling rupawan ia dilengkapi dengan 600 sayap, masing-masing sepanjang jarak antara penjuru paling timur dengan penjuru paling barat. Begitu penciptaan selesai, berdirilah malaikat Jibril memandangi dirinya yang rupawan, seraya berkata :

"Ya ALLAH ya Tuhanku, adakah ENGKAU menciptakan makhluk yang lebih tampan dari pada diriku ?"

ALLAH menjawab : " Tidak "

Mendengar jawaban ALLAH seperti itu perasaan Jibril berbunga-bunga dan sebagai ungkapan rasa syukurnya yang mendalam ia mengerjakan shalat 2 rakaat, yang setiap rakaatnya dilakukan selama 20.000 (dua puluh ribu tahun).

Setelah selesai mengerjakan ALLAH SWT berfirman padanya :

" Hai Jibril, begitu bersungguh-sungguh engkau mengerjakan shalat. Demikian engkau telah penyembahan kepadaKU denagn penyembahan yang tiada bandingnya. Tetapi ketahuilah hai Jibril, bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir Nabi terhormat yang AKU Sayangi, dia bernama Muhammad.

Dia memiliki umat yang lemah yang banyak melakukan dosa. Sekiranya umat yang bergelimang dosa itu mau mengerjakan shalat dua rakaat, sekalipun shalatnya banyak kekurangan, waktunyapun tergesa-gesa dan tidak konsentrasi, maka dem ikemuliaan dan keagunganKU, sungguh shalat mereka itu lebih AKU sukai dari pada shalatmu !

Mengapa ? Karena shalat mereka berdasarkan perintahKU, sedangkan shalatmu itu bukan berdasarkan perintahKU ! "

Jibril : "Ya TUHANku lalu apakah balasan yang bakal ENGKAU berikan atas ibadah mereka ?"

ALLAH : "Balasan yang bakal AKU berikan adalah surga Ma'wa."

Begitu mendengar kata-kata surga Ma'wa, Jibril memohon izin kepada ALLAH agar diperkenankan melihatnya maka ALLAHpun mengabulkan permohonan Jibril ini, sehingga dia segera berangkat menuju surga tersebut, dia bentangkan seluruh sayapnya lalu terbang untuk menempuh jarak yang amat jauh tak terperikan.

Setiap kali dia membuka sepasang sayapnya maka dia menempuhl jarak sejauh 300.000 (tiga ratus ribu tahun perjalanan). Begitu juga setiap menutupkan sayap padahal ia terbang selama tiga ratus tahun serta memiliki sayap tiga ratus pasang sayap atau enam ratus buah. Namun sejauh itu ia belum berhasil mencapai tujuan setelah merasa begitu letih diapun beristirahat disebuah pohon raksasa dia bersujud kepada ALLAH SWT seraya mengadu : " Ya ALLAH, apakah perjalananku telah sampai separuhnya,ataukah baru dua pertiga atau bahkan separuhnya ?

" ALLAH SWT berfirman kepadanya : " Hai jibril walaupun kau mampu terbang tiga ratus ribu tahun dengan sayap-sayapmu yang sudah ada dan AKU tambah lagi enam ratus sayap, niscaya tidak kau bisa mencapai seper seratusnya (1%). Itulah keistimewaan yang akan KUberikan kepada umat Muhammad yang mau mengerjakan shalat !".

Sejarah shalawat Badar

Sholawat Badar Kiyai 'Ali Manshur
Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai 'Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan Kiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab ""Tanwir al-Hija" yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib 'Alawi bin 'Abbas bin 'Abdul 'Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol "Inarat ad-Duja".
Diceritakan bahawa karya ini ditulis oleh Kiyai 'Ali Manshur sekitar tahun 1960, tatkala kegawatan umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai 'Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, juga menjadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang bercelaru saat itu dan kebejatan PKI yang bermaharajalela membunuh massa, bahkan ramai kiyai yang menjadi mangsa mereka, menyebabkan terlintas di hati Kiyai 'Ali, yang memang mahir membuat syair 'Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri lagi, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah s.w.t. Dalam keadaan sedemikian, Kiyai 'Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih - hijau, dan malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai 'Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahawa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai 'Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai 'Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai "Sholawat al-Badriyyah" atau "Sholawat Badar". Apa yang menghairankan ialah keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan lain-lain bahan makanan. Mereka menceritakan bahawa awal-awal pagi lagi mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai 'Ali untuk membantunya kerana satu kenduri akan diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barangan tersebut menurut kemampuan masing-masing. Tambah pelik lagi apabila malamnya, hadir bersama untuk bekerja membuat persiapan kenduri orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

Menjelang keesokan pagi, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib 'Ali bin 'Abdur Rahman al-Habsyi @ Habib 'Ali Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai 'Ali. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai 'Ali menerima tetamu istimewanya tersebut. Setelah memulakan perbicaraan bertanyakan khabar, tiba-tiba Habib 'Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai 'Ali tersebut. Tentu sahaja Kiyai 'Ali terkejut kerana hasil karyanya itu hanya diketahuinya dirinya seorang dan belum dimaklumkan kepada sesiapa pun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah satu kekeramatan Habib 'Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa lengah, Kiyai 'Ali Manshur mengambil helaian kertas karangannya tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata kerana terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai 'Ali, Habib 'Ali menyeru agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai 'Ali tersebut. Selanjutnya, Habib 'Ali Kwitang telah menjemput ramai ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, antara yang dijemput ialah Kiyai 'Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai 'Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luas Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan popular dalam majlis-majlis ta'lim dan pertemuan. Moga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib tersebut..... al-Fatihah.
Allahu ... Allah, inilah kisah bagaimana terhasilnya penulisan Sholawat Badar oleh Kiyai 'Ali Manshur. Cerita ini telah ambo dengar daripada beberapa kerabat Kiyai Haji Ahmad Qusyairi di Kota Pasuruan. Juga ianya dimuatkan dalam buku "Antologi NU : Sejarah - Istilah - Amaliah - Uswah " karangan H. Soeleiman Fadeli & Mohammad Subhan dengan kata pengantar Kiyai Haji 'Abdul Muchith Muzadi. Benar atau tidak, percaya atau tidak, itu tidak penting, apa yang nyata ialah Sholawat Badriyyah ini adalah karyanya Kiyai 'Ali Manshur dan telah diterima serta diamalkan oleh para ulama dan habaib yang menjadi pegangan dan panutan kita. Maka sempena memperingati peristiwa Perang Badar al-Kubra, marilah kita bermunajat memohon keselamatan dunia akhirat dengan bertawassulkan Junjungan Nabi s.a.w. dan para pejuang Badar radhiyAllahu 'anhum ajma'in.

Kamis, 11 Juli 2013

JANGAN SUKA MEREMEHKAN SESEORANG!

Habib Munzir almusawa : saat saya ke Tarim hadramaut yaman, (1994-1998), saya duduk hadir disuatu majelis yg penuh sarat dengan para ulama kelas satu, disana ada empat mufti, saya tidak mengenal mereka karena baru datang dari indonesia, karena halaqah sudah penuh padat, saya duduk dipaling belakang, disebelah saya orang orang yg menyiapkan kopi dan suguhan untuk para hadirin, disebelah mereka duduk seorang sepuh bertampang biasa saja, saya mencium tangannya bukan karena apa apa, tapi karena ia sudah sepuh, dan hati saya membatin, bahwa dia ini bukan ulama apa apa, cuma sepuh saja, kalau dia ulama mestilah ia duduk dishaf depan atau terdepan, bukan duduk disebelah tukang pembagi kopi dg gelas gelas yg ribut dan air bertumpahan kemana mana. selepas majelis bubar, semua orang berdesakan menyalaminya, termasuk ulama ulama sepuh yg dishaf terdepan, saya bingung dan bertanya tanya, inikan cuma orang sepuh yg duduk dipaling belakang, ternyata ia adalah Almarhum Syeikh Fadhl ba fadhl, pimpinan majelis para mufti di Tarim hadramaut, ia pimpinan mufti, namun karena tawadhu dan rendah dirinya, ia tidak mau maju kedepan karena datang terlambat, saya jadi sangat malu..

Kamis, 04 Juli 2013

KEUTAMAAN " SHOLAWAT KEPADA NABI SAW"


Fadlilah membaca sholawat kepada Nabi SAW.


Ketika suatu waktu ada setengah dari sahabat yang mengajukan pertanyaan kepada nabi :
Ya Rosululloh...Alloh SWT selalu memberi 10 sholawat(rahmat) kepada siapa saja yang membaca satu sholawat kepada engkau..duhai rosul, apakah yang diatas itu harus dengan hati yang hadir ?
jawab Rosululloh : tidak...siapa saja yang membaca sholawat kepadaku (nabi saw) meskipun dengan hati yang lalai, tetep Alloh SWT bakal memberi pahala yang sama dengan besarnya gunung dan para malaikat selalu mendoakan serta memohonkan ampunan kepada orang yang membaca sholawat tersebut, dan jika ada orang yang membaca sholawat dengan hati yang hadir maka balasannya hanyalah alloh yang mengerti ( karena teramat besarnya balasan pahalanya).

Rabu, 03 Juli 2013

Siksa kubur

A'isyah r.a. berkata: "Saya dahulunya tidak mengetahui
adanya siksa kubur sehingga datang kepadaku seorang
wanita yahudi, minta-minta dan sesudah saya beri ia
berkata: "Semoga Allah melindungi kamu dari siksa kubur.
Maka saya kira keterangannya itu termasuk tipuan kaum
Yahudi, lalu saya ceritakan kepada Nabi Muhammad s.a.w
maka Nabi Muhammad s.a.w memberitahu kepadaku
bahawa siksa kubur itu hak benar, maka seharusnya
seorang muslim berlindung kepada Allah s.w.t. dari siksa
kubur, dan bersiap sedia untuk menghadapi kubur dengan
amal yang soleh, sebab selama ia masih hidup maka Allah
s.w.t. telah memudahkan baginya segala amal soleh.
Sebaliknya bila ia telah masuk kedalam kubur, maka ia
akan ingin kalau dapat diizinkan, sehingga ia sangat
menyesal semata-mata, kerana itu seorang yang berakal
harus berfikir dalam hal orang-orang yang telah mati,
kerana orang-orang yang telah mati itu, mereka sangat
ingin kalau dapat akan sembahyang dua rakaat, berzikir
dengan tasbih, tahmid dan tahlil, sebagaimana ketika
didunia, tetapi tidak diizinkan, lalu mereka hairan pada
orang-orang yang masih hidup menghambur-hamburkan
waktu dalam permainan dan kelalaian semata-mata.
Saudaraku jagalah dan siap-siapkan harimu, sebab ia
sebagai pokok kekayaanmu, maka mudah bagimu
mendapatkan atau mencari untung laba, sebab kini
dagangan akhirat agak sepi dan tidak laku, kerana itu rajin-
rajinlah kau mengumpulkan sebanyak mungkin
daripadanya, sebab akan tiba masa dagangan itu sangat
berharga sebab pada saat itu ia berharga, maka kau tidak
akan dapat mencari atau mencapainya.

Cerita hikmah dari habib Munzir al musawa

Al Habib Munzir bin Fuad Al musawa beliau bercerita :
Saya pernah didatangi para pemuda yg mengeluhkan seorang Kyai yg sangat bengis, tajam bicaranya, keras kepala dan dibenci oleh masyarakat sekitar, ia selalu mencaci siapa saja diatas mimbar, dan rupanya saya adalah dari orang yg paling ia benci.. ia selalu memaki maki saya dimanapun ia mengajar, saya sempat kesal dan bertanya tanya :

"apa salah saya padanya?", ternyata karena banyak dari pemuda di wilayahnya tak mau belajar padanya dan mereka hadir di majelis majelis saya yg cukup jauh dari wilayah itu.. suatu hari saya bertemu dengannya disatu masjid besar, kebetulan ia khutbah jumat, sedangkan masyarakat masjid itu adalah sebagian besar murid murid saya, sampai Ketua Masjid sudah pucat melihat saya datang tuk shalat jumat, maka ketua masjid menawarkan saya khutbah jumat dan menggagalkan kyai itu, tentunya saya menolak, saya biarkan saja ia naik berkhutbah, ia tak tahu bahwa saya ada di shof hadirin, ketika selesai shalat jumat ia masih duduk berdoa, maka saya mendekati dia, saya mencium tangannya, lalu saya bersimpuh dan mencium pahanya, bagai anak yg sangat memuliakan dan mencintai ayahnya yg sudah lanjut usia, ia kaget, ia tak tahu bahwa inilah orang yg ia selalu caci maki, saya pergi.. ia pun bertanya tanya siapa itu pemuda tadi yg pakai sorban dan ia mencium kaki saya?, orang orang berkata : dia itu orang yg selalu pak kyai caci maki.., dia itu Ustaz Munzir..!, maka ia berubah total.. kini dimanapun ia naik mimbar pasti ia memuji saya, diantara kata katanya : "siapa berani menentang habib munzir maka hadapi saya!" begitu saudariku, tiap kali ia jumpa saya pasti ia memeluk saya dan menangis...